Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Dua sendok saja, sayang.
Aku ngga tau harus berapa sendok gulanya, maaf atuh, emangnya biasanya berapa yang?
Saya lantas tersenyum, dibalasnya dengan sipuan. Kalau saja ngga di depan bunda sama si ade, mungkin satu kecupan sudah saya daratkan di keningnya. Hari itu saya bahagia, ya bahagia, kata lama yang baru saya temui lagi. Perasaan yang diidamkan semua orang.
Hari itu saya bahagia bukan karena satu gelas teh manis yang dia buatkan untuk saya, tapi lebih karena kerelaan dia untuk berada di dapur rumah saya dan berusaha merasa nyaman karenanya.
Ah, cinta memang selalu terdengar cengeng teman. Walau pada akhirnya kami selalu disebut melankonis, saya tidak peduli. Tidak ada gunanya berbohong, toh kami memang sedang menjalani sesuatu yang manis dan kata-kata tidak pernah terasa cukup untuk menggambarkannya.
Saya kagum akan kesediaannya untuk bertanya, mencoba mengerti saya, mencoba mencari apa yang saya inginkan dari dirinya. Kami bahkan bermain permainan konyol demi saling mendapati satu sama lain. Kami bahkan enggan untuk berbohong, alih-alih berbohong kami berkata jujur walau sadar bahwa apa yang kami lakukan kadang tidak sesuai dengan apa yang kami inginkan. Tapi kami butuh itu, kami butuh kejujuran. Dan berbahagialah manusia yang mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Hari itu kami kembali duduk berdua di tempat yang biasa kami sebut “rumah”, ah, di manapun selalu kami sebut rumah. Saya selalu merasa pulang ke rumah ketika dia ada di sana. Seperti waktu yang lalu, kami duduk berhadapan, saling menatap satu sama lain, bersumpah untuk berkata jujur, dan pertanyaan demi pertanyaan terlontar begitu saja. Tidak ada jawaban yang begitu menyakitkan, karena selalu diakhiri dengan kecupan serta pelukan erat yang menenangkan. Semakin lama pertanyaannya semakin pintar, semakin membuka diri, semakin mewujudkan apa yang selama ini hanya tersimpan di dalam. Walaupun kadang saling mencubit, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berjiwa emosi, pertanyaan itu murni logika yang mencoba keluar dari terali kecil yang menyesatkan bernama cinta.
Menyenangkan, kami harap Tuhan mengijinkan kami untuk terus bahagia, menjalani sisa hidup kami, menata kehidupan bersama-sama, dan menjadi tua dengan kedua tangan kami yang selalu saling menggenggam.
**Adzan Subuh, merinding entah kenapa.
Let’s Get Lost – Elliott Smith
I’ve been outside
Invited in
But I couldn’t abide
Wouldn’t miss it again
Burning every bridge that I cross
To find some beautiful place to get lost
I had true love
I made it die
I pushed her away
She said please stay
Burning every bridge that I cross
To find some beautiful place to get lost
To find some beautiful place to get lost
Well I don’t know where I’ll go now
And I don’t really care who follows me there
But I’ll burn every bridge that I cross
And find some beautiful place to get lost
And find some beautiful place to get lost
Nyaman
Kepercayaan adalah ketika rasa nyaman merupakan satu-satunya hal yang kita rasakan, dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
**Cerita ini dimulai di pelataran parkir sebuah kedai fast food, dan berakhir dalam kepala kami masing-masing.
Siapa bilang jatuh cinta itu butuh waktu yang lama? Baiklah, saya ganti pertanyaannya, seberapa lama rasa sayang itu muncul ketika kita bertemu lawan jenis?
Saya, satu detik. Detik pertama saya melihat dia tepat di matanya, detik kedua adalah kerelaan untuk menghabiskan seluruh waktu luang saya bersamanya, sampai nanti, sampai kami mati. Hey, ini bukan gombalan di novel-novel lama yang berakhir dengan tangisan atau happy ending seperti film-filmnya Om Lupus (sudah pantas disebut Om sepertinya). Ini realitas kawan! Ini adalah bagaimana Tuhan berkehendak, dan manusia hanya dapat menjalankannya.
“Udah, ngga usah banyak omong. Sekarang yang penting adalah aku sayang kamu, hanya kamu. Hati ini, semuanya milik kamu!”
Sudah saya bilang, ini bukan romansa. Ini kenyataan. Nyatanya seorang gadis pintar yang cantik berkata seperti itu, dan saat dia menyampaikan kata tersebut, matanya ikut berbisik, “Ini nyata, bukan mimpi!”.
Baiklah, semuanya terdengar begitu sempurna sampai di sana. Sebelum lantas kemudian muncul pertanyaan lain dari Tuhan, “Sudah siapkah kalian hidup bersama, hanya berpegangan kepada komitmen kalian dan membiarkan nasib serta perjuangan kalian yang menentukan jalan hidup kalian?” dengan sangat-sangat yakin serta penuh kesadaran, belum.
Yang paling sulit bagi pasangan umur dua puluh-an seperti kami adalah ketika kami harus berurusan dengan keseharian kami. Apa yang kami lakukan terkadang tidak sesuai dengan apa yang kami inginkan. Ada satu kata yang saya ambil sebagai jalan keluar, profesionalisme. Sebelum menulis cerita ini saya sempat menonton Hitman dan menemukan apa itu profesionalisme.
Profesionalisme adalah ketika kita dapat memisahkan apa yang harus kita lakukan dengan apa yang kita rasakan.
Sejak awal dia menekankan bahwa dia punya keseharian yang tidak dapat dia tinggalkan begitu saja, tapi yakin, sangat-sangat yakin kalau semua itu akan dia tinggalkan.
Baiklah, mari kita tinggalkan masa kini sebentar saja dan mencoba bertualang ke masa depan untuk sesaat, agar kita mengerti apa yang ada di kepala kita masing-masing, yang mana sebenarnya adalah sama persis namun pemahamannya yang berbeda.
Let’s see three or more years we (me and her) are keep our faith deeply and meet the best result, yes mate, we are finally married. Dia dengan kesehariannya sebagai seorang wanita karir, dan saya sebagai jurnalis, sesuai dengan apa yang kami impikan (ini mimpi kami kawan). Sesuai dengan apa yang kami usahakan (ini kenyataan). Kalau saja kami tidak dapat memisahkan mana perasaan mana pekerjaan, kami tentu saja akan dengan mudah berhenti di tengah jalan. Maksud saya, rasa cemburu serta posesifitas buta yang menyesatkan itu akan merusak segalanya. Dan satu-satunya pilihan yang seharusnya kami ambil adalah menjadi dewasa dengan menjadi seorang yang profesional dalam menjalani kehidupan.
Apapun itu, jangan campurkan masalah di rumah tangga kami dengan masalah yang kami temui dalam pekerjaan. Orang yang kami akrabi di tempat kerja bukan berarti kami akrabi juga di rumah atau di tempat tidur misalnya, hubungan itu akan berhenti sampai jam kerja selesai, untuk kemudian memeluk satu sama lain dengan penuh kasih sayang di rumah. Tentu saja dengan syarat kami memang saling menyayangi, seperti ketika pertama kali kami bertemu.
Apa hasilnya? We gonna end with happiness and more positive things! Yakin? Yakin sangat!
Baiklah, kembali ke masa kini. Kami jadikan itu final goal, bagaimana kalau kami coba terapkan kedewasaan yang saya sebutkan di atas dalam hubungan kami sekarang? Apakah mungkin menerapkan mimpi dalam kenyataan? Apakah mungkin menyomot masa depan untuk kami nikmati di masa sekarang?
Sayangku, hanya kita yang dapat menjawabnya.
Maukah kamu menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupku, dan jadikan aku satu-satunya pengisi waktu luangmu sekaligus kekasih hati kamu selamanya?
Tangannya menggenggam tangan saya, erat, binar matanya adalah cahaya paling terang malam itu. Kendaraan mungil itu membelok di perempatan, beberapa meter kemudian kami menemukan surga kami yang pertama. Bukan soal tubuh kami ada di mana, tapi ke mana jiwa kami melayang.
Semoga Tuhan mengabulkan do’a kami, dan merestui apa yang kami jalani selama ini, sekarang, dan nanti.
**Love my greenies, always.
Dreams, hope.
Hey there Delilah
What’s it like in New York City?
I’m a thousand miles away
But girl, tonight you look so pretty
Yes you do
Times Square can’t shine as bright as you
I swear it’s trueHey there Delilah
Don’t you worry about the distance
I’m right there if you get lonely
Give this song another listen
Close your eyes
Listen to my voice, it’s my disguise
I’m by your sideOh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to meHey there Delilah
I know times are getting hard
But just believe me, girl
Someday I’ll pay the bills with this guitar
We’ll have it good
We’ll have the life we knew we would
My word is goodHey there Delilah
I’ve got so much left to say
If every simple song I wrote to you
Would take your breath away
I’d write it all
Even more in love with me you’d fall
We’d have it allOh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to meA thousand miles seems pretty far
But they’ve got planes and trains and cars
I’d walk to you if I had no other way
Our friends would all make fun of us
and we’ll just laugh along because we know
That none of them have felt this way
Delilah I can promise you
That by the time we get through
The world will never ever be the same
And you’re to blameHey there Delilah
You be good and don’t you miss me
Two more years and you’ll be done with school
And I’ll be making history like I do
You’ll know it’s all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here’s to you
This one’s for youOh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.
Mimpi itu memang selalu indah, dia yang membuat saya banyak bermimpi dan berusaha sekuat tenaga mewujudkannya. Semuanya untuk dia, apapun saya usahakan buat dia, saya selalu mencoba mengerti dia, memenuhi keinginannya, mengikuti alur yang dibuatnya. Walaupun terkadang sakit, terlampau sakit, tapi semua harapan semua rasa yang dia pupuk membuat saya sekeras batu dalam hal ini.
Tapi sekarang dia diam, sekarang terserah saya ujarnya. Terserah. Tolong beritahu saya, apakah harus pergi sekarang?
Juru Kamera Belanda Tewas di Georgia
Salah seorang juru kamera asal Belanda menjadi korban serangan Rusia ke Georgia. Sementara itu, koresponden asal Belanda lainnya terluka.
Juru kamera itu, Stan Storimans, dilaporkan menjadi korban dari pengeboman yang dilancarkan Rusia ke kota Gori, Georgia. Demikian diberitakan Reuters, Selasa (12/8/2008).
Dalam pernyataan resminya di website RTL Nieuws, 5 orang disebutkan tewas akibat ledakan bom itu.
Lagi-lagi seorang jurnalis meninggal, lagi-lagi karena perang, turut berduka cita sedalam-dalamnya. Sekarang, setelah terlalu banyak korban tidak bersalah, masihkah perang menjadi jalan keluar untuk suatu masalah?
Untuk rekan-rekan jurnalis, semoga lebih awas akan resiko yang didapat dalam setiap peliputan. Mari serukan tidak untuk peperangan!

Selamat Datang!
Yaya.. “selamat datang”, ini blog baru saya. Bukan karena ada tugas saja sebenarnya (walaupun itu memang tujuan utamanya) tapi sekedar mencari lahan baru untuk berbagi.
Berbagi apa?
Apa saja, pendapat, ide, pemikiran, karya, dan banyak hal lain. Saya harap beberapa postingan saya dapat berguna, atau setidaknya sedikit saja menghibur.