Dua sendok saja, sayang.
Aku ngga tau harus berapa sendok gulanya, maaf atuh, emangnya biasanya berapa yang?
Saya lantas tersenyum, dibalasnya dengan sipuan. Kalau saja ngga di depan bunda sama si ade, mungkin satu kecupan sudah saya daratkan di keningnya. Hari itu saya bahagia, ya bahagia, kata lama yang baru saya temui lagi. Perasaan yang diidamkan semua orang.
Hari itu saya bahagia bukan karena satu gelas teh manis yang dia buatkan untuk saya, tapi lebih karena kerelaan dia untuk berada di dapur rumah saya dan berusaha merasa nyaman karenanya.
Ah, cinta memang selalu terdengar cengeng teman. Walau pada akhirnya kami selalu disebut melankonis, saya tidak peduli. Tidak ada gunanya berbohong, toh kami memang sedang menjalani sesuatu yang manis dan kata-kata tidak pernah terasa cukup untuk menggambarkannya.
Saya kagum akan kesediaannya untuk bertanya, mencoba mengerti saya, mencoba mencari apa yang saya inginkan dari dirinya. Kami bahkan bermain permainan konyol demi saling mendapati satu sama lain. Kami bahkan enggan untuk berbohong, alih-alih berbohong kami berkata jujur walau sadar bahwa apa yang kami lakukan kadang tidak sesuai dengan apa yang kami inginkan. Tapi kami butuh itu, kami butuh kejujuran. Dan berbahagialah manusia yang mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Hari itu kami kembali duduk berdua di tempat yang biasa kami sebut “rumah”, ah, di manapun selalu kami sebut rumah. Saya selalu merasa pulang ke rumah ketika dia ada di sana. Seperti waktu yang lalu, kami duduk berhadapan, saling menatap satu sama lain, bersumpah untuk berkata jujur, dan pertanyaan demi pertanyaan terlontar begitu saja. Tidak ada jawaban yang begitu menyakitkan, karena selalu diakhiri dengan kecupan serta pelukan erat yang menenangkan. Semakin lama pertanyaannya semakin pintar, semakin membuka diri, semakin mewujudkan apa yang selama ini hanya tersimpan di dalam. Walaupun kadang saling mencubit, pertanyaan-pertanyaan itu tidak berjiwa emosi, pertanyaan itu murni logika yang mencoba keluar dari terali kecil yang menyesatkan bernama cinta.
Menyenangkan, kami harap Tuhan mengijinkan kami untuk terus bahagia, menjalani sisa hidup kami, menata kehidupan bersama-sama, dan menjadi tua dengan kedua tangan kami yang selalu saling menggenggam.
**Adzan Subuh, merinding entah kenapa.
cerita yang romantis
membuat saya makin rindu sama sebuah “rumah”
Cecep Mahbub
September 23, 2008 at 3:35 pm