Andri Permana

Just another WordPress.com weblog

Ngga boleh sms, nelpon dan ketemu

tinggalkan komentar »

Bukan aku yang ngga mau, dianya yang ngga mau ditinggalin!

Kami berdua lantas tertawa, lama. Entah apa artinya buat dia, tapi buat saya kata-kata itu sangat-sangat mencerminkan dia. Dia yang praktis, instan, dan cerdik! Soal bohong atau tidak, kami berdua punya kemampuan yang sama untuk mengetahuinya, sekaligus untuk melakukannya. Satu lagi dari sangat-sedikit persamaan kami. Teman, kami ini dua manusia pintar yang manipulatif dan super licik! Tapi selalu merasa nyaman, kalau kata sayang atau cinta telah menjadi sarkasme akhir-akhir ini, ketika menghabiskan waktu bersama.

Ah, lelah juga. Masalah tinggal-meninggalkan ini menyita sebagian besar waktu saya. Pekerjaan terbengkalai, saya bahkan lupa perwalian minggu ini. Saya bahkan tidak tahu kuliah apa minggu depan, ah sial, ternyata besok. Kepala saya berat, padahal lebih banyak yang keluar, tapi kenapa bisa tiba-tiba berat ya? Aneh.. Nafas, ugh.. ini parah! Sebelum puasa saya rata-rata ngabisin satu bungkus Pall Mall dan setengah bungkus Djarum Super setiap 24 Jamnya. Setelah tinggal-meninggalkan itu,  kuantitas yang sama saya habiskan dari pukul 18:00 (buka puasa) s/d 04:15 (adzan subuh)!

Sekarang ini, kalau berbaring, setidaknya harus menarik nafas panjang sebanyak tiga kali dulu. Baru sesak itu hilang! Ah, tidak sehat.. Belum lagi tidur yang minimalis, malah tidur yang minimalis, harusnya dosa yang minimalis! Hahha..

Baiklah, baiklah.. janji baru.

Ngga boleh sms, nelpon dan ngajak ketemuan!

Dia mungkin khawatir, takut kena damprat lagi. Takut semakin diawasi, takut semakin dikekang. Saya bilang, kamu sendiri ko yang pengen diperlakukan seperti itu! Dia uring-uringan, seperti biasa, kalau tau salah dia pasti seperti ini. Kalau tau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya juga dia akan sangat-sangat rungsing. Yah, bagaimana lagi? Kalau saya tidak janji buat seperti itu, dia tidak akan bisa tegas! Dia tidak akan bisa memilih! Dan saya benci hati yang mendua!

Lalu, kamu tidak takut kalah bersaing?

Teman, ini bukan persaingan. Ini takdir, takdir saya jadi manusia terbuang serta menjadi hinaan karena punya pola pikir yang beda dari kebanyakan orang. Takdir kami untuk percaya, bahwa tanpa tiga hal di atas kasih sayang itu akan selalu ada dan dapat tumbuh subur. Kami masih punya hati, sebuah awal dari segalanya, dan apa yang datangnya dari hati tidak mungkin kami remehkan. Kami ini penghayal, yang punya mimpi dan khayalan yang sama. Bahkan ketika tidak bertemu dan bersentuhan sekalipun, mimpi kami akan tetap sama.

**jadi dewasa itu gampang, yang sulit adalah menjalaninya**

[keren tuh kutipan, emang bener? hehhe..]

Written by Andri Permana

September 7, 2008 pada 6:42 am

Ditulis dalam Thought

Tinggalkan Balasan