Nyaman
Kepercayaan adalah ketika rasa nyaman merupakan satu-satunya hal yang kita rasakan, dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
**Cerita ini dimulai di pelataran parkir sebuah kedai fast food, dan berakhir dalam kepala kami masing-masing.
Siapa bilang jatuh cinta itu butuh waktu yang lama? Baiklah, saya ganti pertanyaannya, seberapa lama rasa sayang itu muncul ketika kita bertemu lawan jenis?
Saya, satu detik. Detik pertama saya melihat dia tepat di matanya, detik kedua adalah kerelaan untuk menghabiskan seluruh waktu luang saya bersamanya, sampai nanti, sampai kami mati. Hey, ini bukan gombalan di novel-novel lama yang berakhir dengan tangisan atau happy ending seperti film-filmnya Om Lupus (sudah pantas disebut Om sepertinya). Ini realitas kawan! Ini adalah bagaimana Tuhan berkehendak, dan manusia hanya dapat menjalankannya.
“Udah, ngga usah banyak omong. Sekarang yang penting adalah aku sayang kamu, hanya kamu. Hati ini, semuanya milik kamu!”
Sudah saya bilang, ini bukan romansa. Ini kenyataan. Nyatanya seorang gadis pintar yang cantik berkata seperti itu, dan saat dia menyampaikan kata tersebut, matanya ikut berbisik, “Ini nyata, bukan mimpi!”.
Baiklah, semuanya terdengar begitu sempurna sampai di sana. Sebelum lantas kemudian muncul pertanyaan lain dari Tuhan, “Sudah siapkah kalian hidup bersama, hanya berpegangan kepada komitmen kalian dan membiarkan nasib serta perjuangan kalian yang menentukan jalan hidup kalian?” dengan sangat-sangat yakin serta penuh kesadaran, belum.
Yang paling sulit bagi pasangan umur dua puluh-an seperti kami adalah ketika kami harus berurusan dengan keseharian kami. Apa yang kami lakukan terkadang tidak sesuai dengan apa yang kami inginkan. Ada satu kata yang saya ambil sebagai jalan keluar, profesionalisme. Sebelum menulis cerita ini saya sempat menonton Hitman dan menemukan apa itu profesionalisme.
Profesionalisme adalah ketika kita dapat memisahkan apa yang harus kita lakukan dengan apa yang kita rasakan.
Sejak awal dia menekankan bahwa dia punya keseharian yang tidak dapat dia tinggalkan begitu saja, tapi yakin, sangat-sangat yakin kalau semua itu akan dia tinggalkan.
Baiklah, mari kita tinggalkan masa kini sebentar saja dan mencoba bertualang ke masa depan untuk sesaat, agar kita mengerti apa yang ada di kepala kita masing-masing, yang mana sebenarnya adalah sama persis namun pemahamannya yang berbeda.
Let’s see three or more years we (me and her) are keep our faith deeply and meet the best result, yes mate, we are finally married. Dia dengan kesehariannya sebagai seorang wanita karir, dan saya sebagai jurnalis, sesuai dengan apa yang kami impikan (ini mimpi kami kawan). Sesuai dengan apa yang kami usahakan (ini kenyataan). Kalau saja kami tidak dapat memisahkan mana perasaan mana pekerjaan, kami tentu saja akan dengan mudah berhenti di tengah jalan. Maksud saya, rasa cemburu serta posesifitas buta yang menyesatkan itu akan merusak segalanya. Dan satu-satunya pilihan yang seharusnya kami ambil adalah menjadi dewasa dengan menjadi seorang yang profesional dalam menjalani kehidupan.
Apapun itu, jangan campurkan masalah di rumah tangga kami dengan masalah yang kami temui dalam pekerjaan. Orang yang kami akrabi di tempat kerja bukan berarti kami akrabi juga di rumah atau di tempat tidur misalnya, hubungan itu akan berhenti sampai jam kerja selesai, untuk kemudian memeluk satu sama lain dengan penuh kasih sayang di rumah. Tentu saja dengan syarat kami memang saling menyayangi, seperti ketika pertama kali kami bertemu.
Apa hasilnya? We gonna end with happiness and more positive things! Yakin? Yakin sangat!
Baiklah, kembali ke masa kini. Kami jadikan itu final goal, bagaimana kalau kami coba terapkan kedewasaan yang saya sebutkan di atas dalam hubungan kami sekarang? Apakah mungkin menerapkan mimpi dalam kenyataan? Apakah mungkin menyomot masa depan untuk kami nikmati di masa sekarang?
Sayangku, hanya kita yang dapat menjawabnya.
Maukah kamu menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupku, dan jadikan aku satu-satunya pengisi waktu luangmu sekaligus kekasih hati kamu selamanya?
Tangannya menggenggam tangan saya, erat, binar matanya adalah cahaya paling terang malam itu. Kendaraan mungil itu membelok di perempatan, beberapa meter kemudian kami menemukan surga kami yang pertama. Bukan soal tubuh kami ada di mana, tapi ke mana jiwa kami melayang.
Semoga Tuhan mengabulkan do’a kami, dan merestui apa yang kami jalani selama ini, sekarang, dan nanti.
**Love my greenies, always.