Andri Permana

Just another WordPress.com weblog

Ego, Saat Kita Dewasa

tinggalkan komentar »

Hari ini saya bertemu anak kecil, tipikal yang ingin kamu cubit pipinya kalau bertemu. Dan saya cubit itu pipi anak kecil, untuk lantas kemudian menangis dan mengadukan saya ke orang tuanya.

Coba kalian tebak, ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi ketika pengaduan itu dia jalani.

  1. Anak tersebut disuruh kembali menemui saya untuk kemudian melancarkan serangan balik berupa pemukulan atau pencubitan, atau bentuk balas dendam lainnya atas dasar pembenaran yang diberikan oleh orang tua si anak.
  2. Anak tersebut diminta untuk melakukan prosesi minta maaf. Meminta maaf untuk suatu kesalahan yang dia sendiri bahkan tidak tahu di mana-mananya.
  3. Anak itu akan disuruh kembali untuk mendiskusikan kenapa saya mencubitnya, atau bahkan hanya bercerita kenapa dia sampai menangis.
  4. Orang tuanya memberikan alasan berupa tebakan tentang apa alasan saya sampai mencubit anak itu, supaya anak itu tenang dan permasalahan tidak berlanjut.
  5. Orang tuanya datang, melancarkan beberapa kata keras yang mau-tidak mau akan membuat saya meminta maaf.
  6. And so on, and so on..

dan anak itu ternyata mendapati situasi nomer 3. Tiba-tiba berhenti menangis dan bertanya, “Kenapa om cubit pipi?”. Saya hanya tersenyum, membelikan dia permen, lantas mencubitnya lagi. Anak itu hanya tersenyum, mengerti kalau dia dicubit bukan untuk alasan yang buruk.

Itu anak-anak, akan lain ceritanya kalau orang dewasa yang saya cubit! Hahahha..

Maksud saya begini, ketika bertemu situasi yang kurang dia mengerti seorang anak akan langsung meminta pendapat orang tuanya, orang yang dia percaya akan selalu memberikan yang terbaik buat dirinya. Lalu ketika seorang dewasa mengalami hal yang sama, apa yang akan terjadi? Dia mungkin akan hanya bertanya kepada dirinya sendiri, untuk kemudian bertindak sesuai dengan apa yang dia yakini benar.

Ada beberapa pertimbangan ketika seorang dewasa bertanya kepada dirinya sendiri. Pertama adalah pengalaman, yang kedua adalah keinginan.

Pengalaman tentu saja sesuatu yang tidak akan pernah kita ragukan kebenarannya, karena pengalaman adalah hal yang pernah menanamkan rasa dalam kehidupan si dewasa. Si dewasa akan tahu bagaimana menyikapi hal yang pernah dia alami sebelumnya. Dan itu akan menjadi prioritas utama sebagai bahan pemikiran dalam menindaki apa yang ada di depan matanya. Kalau keinginan? Keinginan adalah hal lain, ketika pengalaman berkata A, keinginan untuk mendapati suasana lain dengan apa yang pernah si dewasa alami akan membuat dia bertindak B. Itulah kenapa kalau kita mendapati sesuatu yang pernah kita alami, kita bertindak sama walaupun kita tahu itu negatif. Itulah kenapa kita kadang jatuh ke dalam lubang yang sama.

Lantas kenapa keinginan itu begitu kuat sampai pengalaman betul-betul tidak mampu kita hiraukan?

Ada satu hal yang membuat keinginan itu begitu kuat, lebih kuat dari apapun. Penasaran adalah hal yang mendasari keinginan yang begitu kuat. Dalam penasaran itu terdapat ego, dan ego berada dalam tingkatan paling tinggi kalau membahas tentang penanganan masalah kehidupan. Sebegitu perkasanya ego, sampai-sampai komitmen serta idealisme kita terlihat layaknya sampah. Harga diri adalah bagian terbesar dari ego, dan harga diri adalah sesuatu yang kita bawa sejak lahir. Anda tau bagaimana rasanya manusia yang diharuskan membuang bawaan sejak lahir? Bahkan tekhnologi semaju apapun tidak akan dapat menggantikan kebesaran ciptaan Tuhan. Dan harga diri adalah ciptaan Tuhan yang kita bawa sejak lahir.

Meaningless? Tergantung ego anda sebetulnya.

Written by Andri Permana

September 2, 2008 pada 5:54 pm

Ditulis dalam Thought

Tinggalkan Balasan