Andri Permana

Just another WordPress.com weblog

si Duron

tinggalkan komentar »

Manusia memang aneh, kita selalu tidak puas, atau mungkin karena hal ini terjadi kepada semua orang lantas kita sebut saja biasa. Maksud saya kapan kita merasa puas, kalau apa yang kita dapatkan tidak kita hargai?

Betul, semua itu bukan masalah memuaskan atau tidak, tapi soal bagaimana kita menghargai apa yang kita dapatkan. Soal puas atau tidak, sepertinya sudah jadi kodrat manusia untuk selalu tidak merasa terpuaskan. Lagipula, mari kita jadikan motivasi saja untuk terus bekerja keras. Setidaknya kita bisa mendapatkan hal positif, bukan?

Saya punya AMD Duron 800 Mhz dengan memory 128 Mb dan VGA 32 Mb selama kurang lebih lima tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah “sumber kehidupan” memang, tapi saya menikmatinya dan mencintainya sampai sekarang, sebelum akhirnya dia tergeletak di gudang tak bernyawa. Anehnya, setelah hampir satu tahun berpisah dengan si Duron saya tidak merasa puas dengan kinerja “teman” saya yang baru. Hati saya masih bersama si Duron rupanya, setidaknya itu yang saya ambil sebagai pembenaran untuk ketidaksetiaan saya ini.

Yang baru ini bukan main, ini tiga per empat mimpi saya sebenarnya. Saya bahkan punya lima setengah mimpi saya untuk teman bermain, mimpi saat saya masih bersama si Duron. Tapi percaya atau tidak, beberapa bulan kemarin saya masih suka membawa si Duron ke kamar. Saya masih suka bercengkrama dengannya, saya belikan barang-barang yang baru, baru dia temui bukan baru keluar dari toko, dan mencobanya saat kami bersama. Dan dia masih seperti dulu, masih semangat dan bertenaga seperti dulu.

Ada banyak kenangan manis yang tidak akan pernah saya lupakan tentang si Duron, banyak hal yang membuat hidup saya seperti sekarang. Saya ingat 350.000 pertama saya didapat karena si Duron. Itu bukan jumlah uang yang besar memang, tapi saat itu bukan sekarang, uang itu membuat saya jadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Kami bekerja siang-malam tanpa henti, saya berhenti sesekali memang, dia tidak sama sekali. Satu minggu setelahnya dia kelelahan, satu bagian dari tubuhnya harus diganti, harganya setengah dari apa yang saya dapatkan. Menyesalkah saya? Tidak. Saya justru lebih semangat bekerja dengannya, namun dengan perhatian lebih banyak dan lebih hati-hati dalam melakukan pekerjaan kami.

Ah, terlalu banyak kenangan. Bahkan ada beberapa hal yang saya khususkan hanya untuk dia. Meskipun saya bisa mendapatkan penggantinya dengan mudah, saya tidak pernah mau untuk menggantinya dan hanya saya nikmati ketika saya bersama dia.

Lalu, apa inti dari cerita saya di atas? Ingin pamer bahwa sekarang saya adalah orang sinting yang menganggap komputer sebagai seorang teman? Bukan, bukan itu.

Saya pikir saya mendapat pelajaran baru, hidup itu tentang belajar bagi saya, dan ingin berbagi dengan teman-teman. Sikap saya yang selalu menjadikan si Duron sebagai pelarian dari ketidakpuasan saya terhadap komputer baru sudah saya sadari buruk dan ingin berhenti bersikap seperti itu. Saya sadar, komputer baru saya bukan tidak akan memberikan kenangan dengan cara dan situasi yang lain. Saya sadar bahwa kami baru saja bertemu dan belum melakukan sesuatu yang besar. Saya juga berharap terlalu tinggi kepadanya, dan meminta maaf karena itu. Kami masih punya empat tahun atau bahkan lebih dari itu untuk menjalin hubungan yang lebih baik bahkan daripada hubungan saya dengan si Duron. Dan kami pasti akan melakukan sesuatu yang besar yang mengubah hidup kami, bahkan lingkungan sekitar kami tentunya. Saya harap kami bisa, hanya saya? Kalau saja dia manusia yang punya hati dan bisa berharap saya yakin dia akan merasakan hal yang sama. Saya menghargainya sebagai sesuatu yang saya punya, bukan yang pernah saya impikan.

Ada satu kalimat yang membuat saya berubah, dari orang yang selalu penasaran akan hal baru menjadi seseorang yang lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Calon istri saya berkata:

Kalau kita terus mencari, kapan kita akan berhenti?

Kata-kata itu juga yang membuat saya yakin dan menaruh harapan sebanyak mungkin kepadanya, yakin bahwa suatu saat nanti dia adalah satu-satunya pendamping hidup saya sampai Tuhan mengatakan lain. Dan saya akan sekuat tenaga menjaga hal itu agar tetap nyata.

Written by Andri Permana

Agustus 29, 2008 pada 1:07 pm

Ditulis dalam Thought

Tinggalkan Balasan