The Photograph, sebuah potret kehidupan
Pada The 43rd Karlovy Vary International Film Festival, Ceko, 4-12 Juli 2008 kemarin, The Photograph sebuah film Indonesia buatan Nan T. Achnas memenangkan dua penghargaan sekaligus, salah satunya sebagai peringkat dua kategori Ecumenical Jury Award. Ini adalah kali kedua film sutradara wanita tersebut masuk nominasi, film sebelumnya, Pasir Berbisik, belum berhasil mendapatkan penghargaan.
Film The Photograph adalah sebuah karya yang memotret hubungan antarmanusia dengan latarbelakang perbedaan identitas, kepercayaan, ras, dan kebudayaan, di mana perbedaan itu hadir dan berinteraksi secara alami dalam keseharian kehidupan di Indonesia. Oleh sebab itu sebanyak 6 juri festival tersebut memberikan penghargaan Ecumenical Jury Award untuk film The Photograph karena film ini dinilai mampu mengangkat nilai-nilai menyangkut agama dan spiritualitas yang dikemas dengan sangat bagus. 
Tokoh utama film ini adalah seorang Tionghoa bernama Johan (Lim Kay Tong), tukang foto keliling, yang ingin memotret dirinya sendiri sebagai aksi terakhir dalam menutup kehidupannya, meskipun nyatanya foto terakhirnya malah diambil oleh Sita (Shanty), seorang penyanyi karaoke bar dan pekerja seks berumur 25 tahunan yang membantu Johan menjelang akhir hidupnya. Sita, orang yang dianggap paling tidak mungkin melakukan hal itu justru kemudian menjadi orang yang terpenting dalam saat-saat terakhir kehidupan Johan. Adalah kenyataan bahwa Sita berhutang banyak kepada seorang mucikari yang sadis Suroso (Lukman Sardi) yang mendorongnya untuk keluar dari kehidupan lamanya itu. Dan Johan mau menampung dalam studio foto miliknya, yang merupakan awal dari irisan dua potret kehidupan yang dibingkai dengan indah oleh Achnas.
Pada akhirnya, The Photograph adalah sebuah cerita mengenai hubungan antara dua orang yang traumatik yang saling mengisi satu sama lain, melalui keindahan dunia fotografi yang sensitif dan sukar untuk dipahami.