Andri Permana

Just another WordPress.com weblog

Indie is a New Pop?

with one comment

Kurdt in Vector karya R. Yogaswara MAC56 tahun 2005

“Kurdt in Vector” karya Rajaya Yogaswara MAC56, 2005

Beberpa hari ke belakang saya sempat terlibat perbincangan yang cukup hangat dengan dua orang teman tentang wacana di atas, bahwa beberapa hal yang dikenal ‘independen’ telah menjadi sebuah tren baru yang kemudian lambat laun menjadi populer. Dua teman saya itu bersilang pendapat, satu orang dari mereka yakin bahwa hal tersebut memang sedang terjadi, sedangkan teman saya yang satu lagi percaya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Saya sendiri percaya bahwa apa yang kami bicarakan adalah suatu hal yang memang perlu dicari maknanya, dan syukur-syukur kalau dapat dibicarakan lebih lanjut dalam forum yang lebih besar, bukan hanya dalam obrolan sore tiga orang teman saja.

Secara harfiah, independen (independent; indie) berarti tidak memihak, merdeka, berdiri sendiri, atau memiliki kebebasan. Bagi sebagian orang, menjadi indie adalah tujuan hidup, namun ada juga yang berpendapat bahwa indie adalah jalan hidup. Dalam wacana indie is a new pop, indie di sini dapat diartikan sebagai sebuah gerakan yang berorientasi kepada kebebasan dan melakukannya tanpa bantuan orang lain, atau biasa kita kenal dengan gerakan do it yourself (DIY). Gerakan inilah yang lantas menjadi sebuah rujukan atas suatu perbuatan yang tidak berada dalam koridor mayoritas (major). Sebagian penganutnya percaya bahwa indie adalah sebuah gerakan perlawanan bagi sebuah sistem yang telah mapan, superior dan bersifat umum (populer; mainstreem).

Jadi, apakah mungkin indie menjadi populer seperti wacana di atas? Bagi saya, tidak. Karena indie akan selalu menjadi indie, dan major/populer/mainstreem atau apapun istilahnya, akan selalu menjadi seperti apa mereka selama ini. Karena bagi saya indie adalah sebuah proses, begitu juga major, kedua hal tersebut adalah sebuah perjalanan yang dipilih ketika seseorang atau sekelompok orang ingin mencapai suatu tujuan.

Dalam pendangan saya, persoalan indie ini erat kaitannya dengan kegiatan kreatif. Nyatanya, banyak yang mengidentifikasi sebuah karya kreatif sebagai suatu aliran, indie atau atau tidak indie. Kita ambil contoh sebuah band yang memainkan lagu-lagu yang tidak populer, mereka seringkali disebut sebagai band indie karena musik yang mereka mainkan ternyata tidak terdengar seperti musik-musik yang banyak digemari oleh kebanyakan orang saat itu. Padahal menurut saya ini adalah sebuah persepsi yang kurang tepat. Sebuah band akan saya sebut indie ketika band tersebut ternyata melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa bantuan dari pihak lain yang lebih dulu mapan dalam dunia musik. Segala sesuatu yang dilakukan band indie datang dari dan oleh band itu sendiri. Perumusan konsep band, jenis musik yang mereka mainkan, bagaimana mereka memperkenalkan musik mereka kepada khalayak, dan hal-hal lain sampai dengan peluncuran album pun mereka lakukan sendiri, atas biaya sendiri dan tanpa memanfaatkan jalur-jalur khusus yang telah ada dan dipercaya telah mapan sebagai sebuah birokrasi dalam dunia musik.

Ketika band tersebut lantas menjadi mapan serta memiliki fan base yang besar, band tersebut tidak kemudian menjadi band pop/major. Juga ketika band tersebut menuai hasil komersil yang cukup besar, band tersebut juga tidak menjadi major. Band tersebut tetap indie karena mereka mencapai kesuksesan dengan cara yang indie. Band tersebut menjadi band indie yang mapan. Band tersebut akan menjadi major ketika band tersebut bergabung dan atau mempercayakan beberapa atau seluruh aktifitas bermusiknya kepada sebuah korporasi yang memang khusus dibuat untuk kepentingan komersil. Itu kalau kita memahami pop sebagai sebuah kemapanan, kalau pop di sini kita yakini sebagai sebuah ukuran atas popularitas maka band tersebut adalah sebuah band pop tentu saja, band indie yang populer.

Kejadian di atas juga dapat kita temui dalam banyak sekali aktifitas kreatif lainnya, seperti: seni rupa, sastra, dan banyak lagi, begitu juga dengan industri kreatif dan manajemennya. Banyak kita temui seorang pelukis indie yang memasarkan lukisannya sendiri dengan cara-cara yang tidak biasa bagi seorang pelukis, atau seorang penulis yang menerbitkan bukunya atas biaya dan caranya sendiri. Atau mungkin yang lebih populer, sebuah industri pakaian yang mendisain, membuat dan memasarkannya dengan cara mereka sendiri, atau yang kita kenal dengan clothing indie. Dan banyak hal lain yang mungkin tidak saya ketahui, namun mereka melakukan semuanya dengan cara yang tidak biasa namun mereka yakini sebagai cara yang baik, dan yang pasti, apa yang mereka lakukan telah memberikan alternatif lain bagi para penggiat serta penikmatnya.

Satu dari dua teman saya tadi lantas mengemukakan topik baru yang masih berhubungan dengan idie dan tidak indie ini, seseorang atau sekelompok orang yang indie bergabung dengan sebuah korporasi yang sudah mapan, namun korporasi tersebut dibesarkan dengan semangat indie juga. Apakah orang/kelompok tersebut telah menjadi tidak indie karena bekerjasama dengan orang lain? Atau dengan arti lain orang/kelompok tersebut telah dibantu oleh orang lain.

Perlu kembali kita sadari bahwa indie berarti sebuah jalan atau proses dalam pencapaian sesuatu. Ketika dua pihak dengan tujuan yang sama dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain, maka tujuan yang ingin dicapai juga akan lebih mudah untuk terealisasi. Dalam hal ini, ketika dua pihak memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu dan menempuh cara-cara yang tidak biasa dan tanpa bantuan sebuah korporasi mapan (yang sejak awal memang dibuat untuk kepentingan komersil dan dianggap sebagai birokrasi populer dalam bidangnya), maka kegiatan tersebut saya anggap independen. Mereka dapat dikatakan memilih jalur indie untuk mencapai tujuan mereka.

Misalnya ada seorang penulis novel yang menulis ceritanya sendiri, mengemasnya dalam sebuah buku dengan biaya sendiri, kemudian memasarkan serta mempromosikannya sendiri. Penulis itu kita sebut sebagai penulis independen karena melakukan semuanya sendiri. Lantas ada sebuah perusahaan penerbitan yang dibangun dengan semangat DIY. Perusahaan ini membuat sebuah penerbitan yang beda dari perusahaan penerbitan lain. Penerbit ini memilih cara independen yang tidak terikat oleh aturan yang berlaku (baik tertulis maupun tidak tertulis) lantas menjadi sebuah penerbitan yang mapan dan mampu memberikan alternatif lain kepada para penulis yang ingin menerbitkan tulisannya. Ini kita sebut penerbit yang independen.

Ketika dua pihak (penulis dan penerbit indie) ini bekerjasama, mereka tengah menjalani sebuah proses dengan nafas yang sama, nafas independen. Ketika dapat bekerjasama satu sama lain, mereka berusaha agar apa yang mereka kerjakan dapat saling menguntungkan, dan tentu saja tujuan mereka yang sama dapat tercapai. Misalnya untuk memberikan alternatif bacaan yang lebih beragam dan lebih mudah dijangkau, dengan materi penerbitan yang beda dan cara pemasaran yang lebih kreatif serta efisien. Ketika mereka bekerjasama juga dengan beberapa toko buku yang tidak biasa dan berani untuk keluar dari koridor pemasaran yang baku, maka akan tercipta sebuah komunitas literatur yang independen.

Jadi apakah mereka dapat kita sebut indie? Bagi saya, iya. Mereka berusaha untuk menjadi sebuah komunitas yang coba memberikan alternatif bagi para penggiat dan penikmat literatur. Mereka-mereka itulah komunitas independen.

Sesuatu yang independen akan selalu bertentangan dengan tren. Dalam semangat independen, ada proses kreatif untuk menyediakan alternatif lain dalam pemecahan masalah. Itu sebabnya saya berharap hal ini dapat dikaji secara menyeluruh. Proses kreatif ini yang kemudian akan memberikan sesuatu yang baru di kemudian hari. Independen tidak akan menjadi pop, karena independen adalah sebuah proses. Yang menjalaninya mungkin saja berubah dan menjadi populer, apa yang dilakukannya mungkin saja diikuti orang lain dan menjadi sebuah tren baru, tapi semangat untuk menjadi berbeda dan mencari alternatif lain yang lebih baiknya yang tidak boleh berubah. Karena kadang-kadang sesuatu yang populer itu menjemukan.

ChangingThePresent

Written by Andri Permana

Desember 17, 2007 pada 3:00 am

Ditulis dalam Thought

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. hidup indie pop!!!

    idubali

    Januari 2, 2008 at 6:14 pm


Tinggalkan Balasan