Andri Permana

Pohon-pohon Plastik

Ditulis dalam Literatur by Andri Permana di/pada Desember 13th, 2007

Kota ini tidak pernah terasa begitu panas, tapi hari ini lain. Entah berapa lama saya tinggalkan kota ini tapi yang pasti segala sesuatu yang saya ingat tentangnya, kini terasa hilang begitu saja. Jalanan aspal di bawah saya menyengat, di cakrawala hanya tampak fatamorgana. Pohon-pohon hijau menghiasi setiap sudut kota, pohon yang terbuat dari plastik.

Setahu saya terdapat banyak cerita menyenangkan tentang kota ini. Tentang bagaimana keindahan adalah keniscayaan yang tampak sebagai wajah dari sebuah kota yang penuh kenangan, tepat seperti yang saya rasakan saat masih tinggal di sini. Saya bahkan tidak dapat mencium bekasnya sekarang, yang tercium hanya bau kemegahan yang tidak indah. Yang terasa sekarang hanya hawa keserakahan, yang meskipun berbuah sesuatu yang megah namun tetap saja serakah, dan kita semua tahu serakah itu jauh dari kebaikan. Heran kenapa kota yang indah dan nyaman seperti dulu tidak lagi terasa seperti itu.

Keindahan adalah padanan kata untuk nama kota ini, sebelumnya. Seluruh sudut kota penuh dengan karya seni, karena orang-orang yang tinggal di sini mencintai seni. Mereka menganggap bahwa seni sama besar peranannya dengan nyawa, bagi mereka kehidupan adalah berkesenian. Karena seni berarti kreatifitas, maka mereka yang tinggal di kota ini adalah orang-orang kreatif. Kreatifitas mereka tercermin dari karya-karya mereka yang selalu segar, tidak ada karya yang saling meniru, tidak ada karya yang basi, semuanya baru dan yang paling penting indah. Segala sendi kehidupan serta apa yang mereka pergunakan adalah seni, seni yang indah serta tidak sama satu sama lain. Bagi mereka tidak pernah ada permusuhan, persaingan antar mereka tidak dipandang sebagai sebuah kendala tapi dilihat sebagai sebuah tantangan. Persaingan yang timbul mendorong mereka untuk semakin kreatif setiap saat. Kreatifitas seseorang adalah batas bagi kreatifitas orang lain. Seingat saya, selain penuh keindahan, kota ini juga dipenuhi kedamaian, semua orang mengerti dan patuh akan hal itu, dan mereka tidak saling meniru apalagi mengejek. Sungguh, ini adalah sebuah kota yang indah lagi damai.

Tapi sekarang kota ini bernafas dengan ketukan yang tidak lagi saling mengimbangi satu sama lain, denyut kehidupannya dibuat seragam. Manusia-manusianya tidak lagi kreatif, mungkin hanya sedikit, tapi seakan jauh berbeda dengan masa lalu. Semakin sedikit orang kreatif, maka semakin sedikit pula karya seni yang mereka hasilkan. Mungkin juga banyak, kalau pohon-pohon hijau yang terbuat dari plastik itu disebut karya seni. Atau bangunan-bangunan megah yang tampak angkuh itu juga disebut seni, atau jalan-jalan aspal yang bahkan sebagian tidak lagi menapak di tanah itu disebut seni. Atau musik dengan ketukan monoton dan terdengar sama satu sama lain yang sekarang nyaring terdengar di setiap sudut kota ini disebut seni, dan semakin menyedihkan ketika saya sadari betapa orang-orang itu mendewakan keseragaman. Pakaian mereka sama satu sama lain, cara mereka berbicara seakan-akan mereka itu orang yang sama, mereka membaca, menonton dan mendengarkan panduan yang sama untuk menjalani kehidupan. Tidak lagi terdengar manusia yang penuh ide segar berani memamerkan karya seninya, seperti yang pernah saya lihat dulu.

Entah apa tujuannya, namun saya merasa ada satu kekuatan yang membuat mereka takut untuk berbeda. Orang yang takut untuk menjadi dirinya sendiri adalah orang yang sangat murung, dan pribadi-pribadi murunglah yang saya temui sepanjang jalan. Wajah mereka penuh senyuman memang, senyuman palsu. Gairah yang terasa dalam setiap langkah mereka tampaknya juga gairah palsu. Orang-orang ini bukan seniman seperti yang saya temui di setiap sudut kota dulu, tapi mereka ini robot!

Tapi sukurlah masih terdapat beberapa keindahan yang tersisa, walau terasa sedikit palsu namun setidaknya ada sedikit keindahan yang bisa saya nikmati. Taman kota yang baru saja dipugar untuk kepentingan estetika kota, bukan untuk kepentingan kehidupan warganya, sudah dapat dimasuki masyarakat umum. Saya lalu duduk dan mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, ketika satu pohon yang tampak tua karena waktu membisikan sesuatu ke telinga saya.

“Kamu manusia dari masa lalu?,” ujarnya “kenapa baru saya lihat kamu sekarang?” dia bertanya lagi tanpa sempat saya menjawab. Saya lantas sadar dan hanya duduk mendengarkan karena takut dianggap kurang waras kalau berbicara dengan pepohonan.

“Kami juga dari masa lalu,” pohon itu bercerita “saya yakin kamu dari masa lalu. Warna wajahmu berbeda dari mereka yang biasa datang ke sini, tapi mirip dengan yang dulu saya kenal dan merawat saya penuh cinta dan harapan. Dulu kami masih muda, mungkin baru saja kamu tanam saat kamu berada di sini saat itu.” pohon itu terus berceloteh tanpa memberikan saya kesempatan untuk berpikir.

“Kami diperlakukan tidak seharusnya, bahkan sebagian dari kami dimusnahkan karena mengganggu estetika kota. Kami lantas ditiru dan dibuatkan penggantinya, dari bahan plastik seperti yang bisa kamu lihat di setiap sudut kota ini. Kamu pasti heran kenapa kota ini bisa berubah sedemikian jauhnya,..” pohon itu berhenti bercerita, dia seperti menyadari bahwa apa yang akan diceritakannya bukan sesuatu yang dapat diceritakan kepada siapa saja.

“..itu karena mahluk-mahluk hijau yang datang lantas menguasai kota ini. Mereka tidak lagi mencintai seni seperti nenek moyang kamu, mereka menggantikan seni dengan sesuatu yang lain. Yang mereka sebut-sebut dengan sesuatu yang lebih berkuasa dan lebih memuaskan daripada seni. Sesuatu yang membuat semua orang selalu kekurangan, tidak pernah puas dan hanya melihat hasil akhir tanpa tahu apakah mereka akan bertemu dengan hasil akhir itu atau tidak. Mahluk hijau itu menggantikan seni dengan uang.” situasinya semakin terasa tidak nyaman dan pohon itu menyadarinya sejak tadi, dia berhenti berbicara seakan tidak akan lagi bercerita. Tapi saya masih ingin mendengar cerita tentang kota yang saya cintai ini lebih jauh. Saya lantas memberanikan diri untuk berkata-kata, walau hanya dengan bisikan kecil tanpa menarik perhatian orang lain.

“Saya memang dari masa lalu, dan saya benar-benar ingin tahu.” singkat saja, saya sungguh tidak ingin dianggap kurang waras.

“Tidak salah lagi, kamu memang dari masa lalu. Sebenarnya aku sering bertemu dengan orang-orang dengan warna muka seperti kamu, jauh sebelum taman ini dibuatkan pagar dan dipenuhi barang-barang yang tidak aku kenal. Mereka biasanya berkumpul dan saling bertukar cerita tentang masa lalu, mereka kadang-kadang juga membawa karya-karya mereka, musik, rupa, satra, dan banyak lagi bentuk baru yang indah hasil kreatifitas mereka, ke bawah rindangnya daun-daunku. Semuanya terasa sangat indah, mereka berbicara tentang banyak hal, dan besoknya datang dengan karya-karya yang mereka anggap berkaitan dengan hal-hal yang mereka bicarakan sebelumnya. Mereka penuh kreatifitas seperti yang telah kamu ketahui pada saat kamu mengenal kota ini di masa lalu. Tapi semua itu terasa cepat sekali pergi, terutama karena satu persatu dari mereka terpengaruh oleh mahluk-mahluk hijau itu. Mereka dihasut dan menganggap uang adalah segalanya. Mahluk hijau itu membuat bentuk baru dari uang, mereka menamakannya komersialisme, erat hubungannya dengan konsumerisme yang lebih dulu dihembuskan ke dalam kehidupan warga kota. Komersialisme inilah yang membuat orang-orang yang biasanya datang ke sini itu pergi satu persatu. Mereka menganggap bahwa seni harus berujung uang, karena uang lebih penting dari segalanya.”

“Orang-orang lantas tidak lagi peduli dengan seni dan lingkungannya. Ukurannya bukan lagi seni seperti dulu, tapi sudah uang. Uang adalah faktor utama yang membawa mereka ke dalam kehidupan tanpa rasa cukup, mereka selalu kekurangan. Oleh sebab itu juga mereka hanya melihat hasil akhir, mereka tidak lagi menghargai proses yang paling penting dalam penciptaan sebuah karya seni, karena dalam proses itu terkandung ide dan originalitas. Mereka lantas jadi orang-orang yang memuja komersialisme dan menjadi alat uang untuk semakin membuat warga kota menjadi sebuah kumpulan konsumen yang tidak kreatif. Mereka sekarang menjadi robot yang diperintah oleh uang.” pohon itu kembali berhenti bercerita. Dia tampak kelelahan, seakan telah bercerita selama ratusan tahun.

Selang beberapa waktu saya masih termenung, menyadari diri saya sudah berbicara dengan sebuah pohon, terlebih bahwa kota ini sekarang dalam keadaan yang tidak lagi menyenangkan. Meskipun berat tapi rasa penasaran masih tetap menggelayuti pikiran saya. Saya kemudian bertanya lagi kepada pohon itu, dan mendapati diam sebagai jawabannya. Beberapa kali saya bertanya saya harus melakukan apa agar kota ini kembali normal, atau mungkin agar tidak menjadi seperti ini, pohon itu hanya diam. Saya bahkan berteriak-teriak menanyakan hal yang sama dan pohon itu diam. Daun-daunnya saja yang melambai perlahan karena terpaan angin, seolah ingin mengantarkan saya dan meminta untuk menyampaikan segala sesuatu yang dia bicarakan tadi, saat saya kembali ke masa lalu.

2 Responses to 'Pohon-pohon Plastik'

Subscribe to comments with RSS or LacakBalik to 'Pohon-pohon Plastik'.

  1. Sheisa said, on Desember 17th, 2007 at 8:06 am

    Tulisan-tulisan kamu selalu bagus… Love it so much!!!! Terus berkarya…

  2. Sheisa Sastaviana said, on Januari 22nd, 2008 at 8:22 am

    Cukup sampe di sini aja? Kenapa nggak posting lagi? Sibuk banget ya… Hehe!!!

Leave a Reply