Sedikit Lebih Pintar
“Savoy Homan dari Gedung PR” karya Andri Permana, 2007
Akhirnya, satu cita-cita saya terlaksana. Kalau ditanya apa yang saya rasakan sekarang, mungkin kata “senang” tidak cukup mendeskripsikannya. Walaupun memang butuh pengorbanan yang sangat besar, sangat-sangat besar malah, tapi rasanya saya harus jujur berkata bahwa saya puas.
Saya akhirnya punya satu warnet untuk dikelola, walaupun relatif kecil tapi tetap saja menyita banyak sekali tenaga dan pikiran. Pada awalnya masalah dana, faktor utama yang membuat saya selalu urung melaksanakan niat ini sejak dulu. Untunglah, Bunda dengan senang hati meminjamkan sebagian tabungannya untuk usaha ini. Hampir setengah dari modal keseluruhan adalah uang Bunda, tabungan saya hanya cukup mengisi setengahnya lebih sedikit. Waktu, tenaga dan pikiran juga banyak saya pakai untuk hal ini. Beberapa pekerjaan dan kewajiban malah sempat tertunda dan menimbulkan ketidakpuasan diantara teman-teman. Saya juga meminta maaf kalau saja ada beberapa pihak yang saya kecewakan akhir-akhir ini, semoga berkenan untuk memberikan kesempatan lebih di kemudian hari.
Awal tahun ini saya dihadapkan kepada dua pilihan, dua-duanya memang saya minati sejak lama, membangun sebuah toko buku atau warnet. Entah kenapa, saya merasa keinginan itu harus saya kabulkan awal tahun ini. Mungkin beberapa ‘resolusi’ tahun baru yang memotivasi saya untuk melaksanakan hal ini, juga mungkin karena kebosanan akan rutinitas yang saya jalani beberapa waktu yang lalu. Saya lantas mendiskusikan rencana itu dengan beberapa orang dekat, dan respon mereka selalu sama: “Kenapa harus toko buku atau warnet?”
Saya ingin kita lebih pintar
Pertanyaan Bunda dan beberapa teman saya memang jadi pemicu yang sangat besar. Saya ingin mereka tahu kalau keinginan saya ini bukan semata-mata mencari keuntungan, walaupun tampak klise, tapi saya sungguh ingin negara ini lebih pintar. Saya ingin pemerintahnya lebih pintar, hukumnya lebih pintar, ekonominya lebih pintar, dan segala sesuatunya menjadi lebih pintar sehingga kita menjadi lebih baik di kemudian hari. Ketika berdiskusi dengan beberapa teman, dan beberapa referensi yang saya minati, saya tahu pandangan orang terhadap bangsa ini kini semakin rendah. Bukan hanya dari orang-orang di luar Indonesia, tapi juga dari orang-orang yang sehari-hari tinggal di dan menikmati negara ini. Memang, sebagian kritikan itu membangun dan timbul karena rasa sayang kepada bangsanya tapi banyak juga yang hanya mengkritik tanpa ada tindakan konkrit untuk menuju perubahan.
Dalam pikiran saya, bangsa yang baik adalah bangsa yang dapat mengerti apa yang terjadi di masa lalu (sejarah), faham apa yang sedang terjadi, serta tahu apa yang akan dilakukannya (rencana). Dalam konteks yang sederhana, ketiga hal tersebut didapat dari literatur yang baik. Hal inilah yang saya rasa kurang diperhatikan oleh para penguasa, bahwa akses informasi untuk rakyat telah sama pentingnya dengan pendistribusian sembilan bahan pokok. Dengan akses akan informasi yang mudah, warga negara tidak akan malas untuk mencari tahu apa yang telah, sedang dan akan terjadi di lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, segala tindakan dan perbuatan warga negara menjadi jauh lebih baik seiring perkembangan pengetahuan yang mereka dapatkan. Buku dan internet adalah sumber informasi yang relevan, dan saya harap apa yang saya bangun dapat diterima terlebih diminati oleh masyarakat, setidaknya di lingkungan usaha ini saya bangun.
Bukan hal yang mudah
Ini tidak mudah, sungguh. Banyak kendala yang akhirnya saya temui padahal tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya. Diantaranya birokrasi yang berbelit untuk mendapatkan ijin, pihak ketiga yang memang erat kaitannya dengan usaha saya, dan respon dari masyarakatnya itu sendiri. Saya tidak habis pikir, kenapa birokrasi yang sebetulnya dapat jauh lebih mudah dan cepat harus berakhir dengan penguluran serta kesulitan yang sangat. Juga kepada pihak ketiga yang sampai sekarang hanya mengeruk keuntungan semata tanpa ada usaha untuk mengembangkan ide-ide kreatif lebih jauh dengan segala kemudahannya. Kalau masyarakat, saya mengerti bahwa ini adalah hal yang baru untuk mereka.
Saya mengambil jalan pintas akhirnya, mengekor usaha yang telah dirintis ayah untuk urusan perijinan. Untuk pihak ketiga juga, akhirnya saya temukan suatu solusi yang menguntungkan bagi kedua pihak. Saya akhirnya merintis penggunaan Linux untuk warnet saya, walaupun masih dalam tahap pembelajaran, tapi saya coba untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Menjelaskan kenapa harus menggunakan opensource software dan sebagainya, dan it works, mereka menjadi tahu dan mengerti apa itu opensource dan bagaimana hal itu begitu mengagumkan. Saya kagum akan free opensource ini, Ubuntu (OS yang saya pakai) bahkan dengan sukarela akan mengirimkan CD installer gratis langsung ke alamat kita. Sekali lagi, gratis! Dan saya, bersedia memberikan publikasi serta informasi gratis sebagai timbal baliknya, walaupun sebenarnya tidak diharuskan. Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan mengunjungi www.ubuntu.com
Mari bersama-sama menjadi lebih pintar!
Tulisan ini dibuat bukan hanya sebagai intepretasi dari kebahagiaan saya saja. Saya tahu banyak sekali potensi yang dimiliki teman-teman semua, tapi bagaimana merepresentasikannya adalah cara masing-masing. Satu hal yang kembali ingin saya tekankan, seharusnya ada keterkaitan antara usaha-usaha kreatif yang berkembang di lingkungan kita ini. Satu hal yang sudah dimulai oleh commonroom www.commonroom.info beserta beberapa komunitas kreatif lainnya. Kita ingin segalanya menjadi lebih baik lagi, dan apa yang kita lakukan akan berpengaruh bagi masa depan lingkungan kita, walaupun hanya sedikit.
Indie is a New Pop?

“Kurdt in Vector” karya Rajaya Yogaswara MAC56, 2005
Beberpa hari ke belakang saya sempat terlibat perbincangan yang cukup hangat dengan dua orang teman tentang wacana di atas, bahwa beberapa hal yang dikenal ‘independen’ telah menjadi sebuah tren baru yang kemudian lambat laun menjadi populer. Dua teman saya itu bersilang pendapat, satu orang dari mereka yakin bahwa hal tersebut memang sedang terjadi, sedangkan teman saya yang satu lagi percaya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Saya sendiri percaya bahwa apa yang kami bicarakan adalah suatu hal yang memang perlu dicari maknanya, dan syukur-syukur kalau dapat dibicarakan lebih lanjut dalam forum yang lebih besar, bukan hanya dalam obrolan sore tiga orang teman saja.
Secara harfiah, independen (independent; indie) berarti tidak memihak, merdeka, berdiri sendiri, atau memiliki kebebasan. Bagi sebagian orang, menjadi indie adalah tujuan hidup, namun ada juga yang berpendapat bahwa indie adalah jalan hidup. Dalam wacana indie is a new pop, indie di sini dapat diartikan sebagai sebuah gerakan yang berorientasi kepada kebebasan dan melakukannya tanpa bantuan orang lain, atau biasa kita kenal dengan gerakan do it yourself (DIY). Gerakan inilah yang lantas menjadi sebuah rujukan atas suatu perbuatan yang tidak berada dalam koridor mayoritas (major). Sebagian penganutnya percaya bahwa indie adalah sebuah gerakan perlawanan bagi sebuah sistem yang telah mapan, superior dan bersifat umum (populer; mainstreem).
Jadi, apakah mungkin indie menjadi populer seperti wacana di atas? Bagi saya, tidak. Karena indie akan selalu menjadi indie, dan major/populer/mainstreem atau apapun istilahnya, akan selalu menjadi seperti apa mereka selama ini. Karena bagi saya indie adalah sebuah proses, begitu juga major, kedua hal tersebut adalah sebuah perjalanan yang dipilih ketika seseorang atau sekelompok orang ingin mencapai suatu tujuan.
Dalam pendangan saya, persoalan indie ini erat kaitannya dengan kegiatan kreatif. Nyatanya, banyak yang mengidentifikasi sebuah karya kreatif sebagai suatu aliran, indie atau atau tidak indie. Kita ambil contoh sebuah band yang memainkan lagu-lagu yang tidak populer, mereka seringkali disebut sebagai band indie karena musik yang mereka mainkan ternyata tidak terdengar seperti musik-musik yang banyak digemari oleh kebanyakan orang saat itu. Padahal menurut saya ini adalah sebuah persepsi yang kurang tepat. Sebuah band akan saya sebut indie ketika band tersebut ternyata melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa bantuan dari pihak lain yang lebih dulu mapan dalam dunia musik. Segala sesuatu yang dilakukan band indie datang dari dan oleh band itu sendiri. Perumusan konsep band, jenis musik yang mereka mainkan, bagaimana mereka memperkenalkan musik mereka kepada khalayak, dan hal-hal lain sampai dengan peluncuran album pun mereka lakukan sendiri, atas biaya sendiri dan tanpa memanfaatkan jalur-jalur khusus yang telah ada dan dipercaya telah mapan sebagai sebuah birokrasi dalam dunia musik.
Ketika band tersebut lantas menjadi mapan serta memiliki fan base yang besar, band tersebut tidak kemudian menjadi band pop/major. Juga ketika band tersebut menuai hasil komersil yang cukup besar, band tersebut juga tidak menjadi major. Band tersebut tetap indie karena mereka mencapai kesuksesan dengan cara yang indie. Band tersebut menjadi band indie yang mapan. Band tersebut akan menjadi major ketika band tersebut bergabung dan atau mempercayakan beberapa atau seluruh aktifitas bermusiknya kepada sebuah korporasi yang memang khusus dibuat untuk kepentingan komersil. Itu kalau kita memahami pop sebagai sebuah kemapanan, kalau pop di sini kita yakini sebagai sebuah ukuran atas popularitas maka band tersebut adalah sebuah band pop tentu saja, band indie yang populer.
Kejadian di atas juga dapat kita temui dalam banyak sekali aktifitas kreatif lainnya, seperti: seni rupa, sastra, dan banyak lagi, begitu juga dengan industri kreatif dan manajemennya. Banyak kita temui seorang pelukis indie yang memasarkan lukisannya sendiri dengan cara-cara yang tidak biasa bagi seorang pelukis, atau seorang penulis yang menerbitkan bukunya atas biaya dan caranya sendiri. Atau mungkin yang lebih populer, sebuah industri pakaian yang mendisain, membuat dan memasarkannya dengan cara mereka sendiri, atau yang kita kenal dengan clothing indie. Dan banyak hal lain yang mungkin tidak saya ketahui, namun mereka melakukan semuanya dengan cara yang tidak biasa namun mereka yakini sebagai cara yang baik, dan yang pasti, apa yang mereka lakukan telah memberikan alternatif lain bagi para penggiat serta penikmatnya.
Satu dari dua teman saya tadi lantas mengemukakan topik baru yang masih berhubungan dengan idie dan tidak indie ini, seseorang atau sekelompok orang yang indie bergabung dengan sebuah korporasi yang sudah mapan, namun korporasi tersebut dibesarkan dengan semangat indie juga. Apakah orang/kelompok tersebut telah menjadi tidak indie karena bekerjasama dengan orang lain? Atau dengan arti lain orang/kelompok tersebut telah dibantu oleh orang lain.
Perlu kembali kita sadari bahwa indie berarti sebuah jalan atau proses dalam pencapaian sesuatu. Ketika dua pihak dengan tujuan yang sama dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain, maka tujuan yang ingin dicapai juga akan lebih mudah untuk terealisasi. Dalam hal ini, ketika dua pihak memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu dan menempuh cara-cara yang tidak biasa dan tanpa bantuan sebuah korporasi mapan (yang sejak awal memang dibuat untuk kepentingan komersil dan dianggap sebagai birokrasi populer dalam bidangnya), maka kegiatan tersebut saya anggap independen. Mereka dapat dikatakan memilih jalur indie untuk mencapai tujuan mereka.
Misalnya ada seorang penulis novel yang menulis ceritanya sendiri, mengemasnya dalam sebuah buku dengan biaya sendiri, kemudian memasarkan serta mempromosikannya sendiri. Penulis itu kita sebut sebagai penulis independen karena melakukan semuanya sendiri. Lantas ada sebuah perusahaan penerbitan yang dibangun dengan semangat DIY. Perusahaan ini membuat sebuah penerbitan yang beda dari perusahaan penerbitan lain. Penerbit ini memilih cara independen yang tidak terikat oleh aturan yang berlaku (baik tertulis maupun tidak tertulis) lantas menjadi sebuah penerbitan yang mapan dan mampu memberikan alternatif lain kepada para penulis yang ingin menerbitkan tulisannya. Ini kita sebut penerbit yang independen.
Ketika dua pihak (penulis dan penerbit indie) ini bekerjasama, mereka tengah menjalani sebuah proses dengan nafas yang sama, nafas independen. Ketika dapat bekerjasama satu sama lain, mereka berusaha agar apa yang mereka kerjakan dapat saling menguntungkan, dan tentu saja tujuan mereka yang sama dapat tercapai. Misalnya untuk memberikan alternatif bacaan yang lebih beragam dan lebih mudah dijangkau, dengan materi penerbitan yang beda dan cara pemasaran yang lebih kreatif serta efisien. Ketika mereka bekerjasama juga dengan beberapa toko buku yang tidak biasa dan berani untuk keluar dari koridor pemasaran yang baku, maka akan tercipta sebuah komunitas literatur yang independen.
Jadi apakah mereka dapat kita sebut indie? Bagi saya, iya. Mereka berusaha untuk menjadi sebuah komunitas yang coba memberikan alternatif bagi para penggiat dan penikmat literatur. Mereka-mereka itulah komunitas independen.
Sesuatu yang independen akan selalu bertentangan dengan tren. Dalam semangat independen, ada proses kreatif untuk menyediakan alternatif lain dalam pemecahan masalah. Itu sebabnya saya berharap hal ini dapat dikaji secara menyeluruh. Proses kreatif ini yang kemudian akan memberikan sesuatu yang baru di kemudian hari. Independen tidak akan menjadi pop, karena independen adalah sebuah proses. Yang menjalaninya mungkin saja berubah dan menjadi populer, apa yang dilakukannya mungkin saja diikuti orang lain dan menjadi sebuah tren baru, tapi semangat untuk menjadi berbeda dan mencari alternatif lain yang lebih baiknya yang tidak boleh berubah. Karena kadang-kadang sesuatu yang populer itu menjemukan.
Pohon-pohon Plastik
Kota ini tidak pernah terasa begitu panas, tapi hari ini lain. Entah berapa lama saya tinggalkan kota ini tapi yang pasti segala sesuatu yang saya ingat tentangnya, kini terasa hilang begitu saja. Jalanan aspal di bawah saya menyengat, di cakrawala hanya tampak fatamorgana. Pohon-pohon hijau menghiasi setiap sudut kota, pohon yang terbuat dari plastik.
Setahu saya terdapat banyak cerita menyenangkan tentang kota ini. Tentang bagaimana keindahan adalah keniscayaan yang tampak sebagai wajah dari sebuah kota yang penuh kenangan, tepat seperti yang saya rasakan saat masih tinggal di sini. Saya bahkan tidak dapat mencium bekasnya sekarang, yang tercium hanya bau kemegahan yang tidak indah. Yang terasa sekarang hanya hawa keserakahan, yang meskipun berbuah sesuatu yang megah namun tetap saja serakah, dan kita semua tahu serakah itu jauh dari kebaikan. Heran kenapa kota yang indah dan nyaman seperti dulu tidak lagi terasa seperti itu.
Keindahan adalah padanan kata untuk nama kota ini, sebelumnya. Seluruh sudut kota penuh dengan karya seni, karena orang-orang yang tinggal di sini mencintai seni. Mereka menganggap bahwa seni sama besar peranannya dengan nyawa, bagi mereka kehidupan adalah berkesenian. Karena seni berarti kreatifitas, maka mereka yang tinggal di kota ini adalah orang-orang kreatif. Kreatifitas mereka tercermin dari karya-karya mereka yang selalu segar, tidak ada karya yang saling meniru, tidak ada karya yang basi, semuanya baru dan yang paling penting indah. Segala sendi kehidupan serta apa yang mereka pergunakan adalah seni, seni yang indah serta tidak sama satu sama lain. Bagi mereka tidak pernah ada permusuhan, persaingan antar mereka tidak dipandang sebagai sebuah kendala tapi dilihat sebagai sebuah tantangan. Persaingan yang timbul mendorong mereka untuk semakin kreatif setiap saat. Kreatifitas seseorang adalah batas bagi kreatifitas orang lain. Seingat saya, selain penuh keindahan, kota ini juga dipenuhi kedamaian, semua orang mengerti dan patuh akan hal itu, dan mereka tidak saling meniru apalagi mengejek. Sungguh, ini adalah sebuah kota yang indah lagi damai.
Tapi sekarang kota ini bernafas dengan ketukan yang tidak lagi saling mengimbangi satu sama lain, denyut kehidupannya dibuat seragam. Manusia-manusianya tidak lagi kreatif, mungkin hanya sedikit, tapi seakan jauh berbeda dengan masa lalu. Semakin sedikit orang kreatif, maka semakin sedikit pula karya seni yang mereka hasilkan. Mungkin juga banyak, kalau pohon-pohon hijau yang terbuat dari plastik itu disebut karya seni. Atau bangunan-bangunan megah yang tampak angkuh itu juga disebut seni, atau jalan-jalan aspal yang bahkan sebagian tidak lagi menapak di tanah itu disebut seni. Atau musik dengan ketukan monoton dan terdengar sama satu sama lain yang sekarang nyaring terdengar di setiap sudut kota ini disebut seni, dan semakin menyedihkan ketika saya sadari betapa orang-orang itu mendewakan keseragaman. Pakaian mereka sama satu sama lain, cara mereka berbicara seakan-akan mereka itu orang yang sama, mereka membaca, menonton dan mendengarkan panduan yang sama untuk menjalani kehidupan. Tidak lagi terdengar manusia yang penuh ide segar berani memamerkan karya seninya, seperti yang pernah saya lihat dulu.
Entah apa tujuannya, namun saya merasa ada satu kekuatan yang membuat mereka takut untuk berbeda. Orang yang takut untuk menjadi dirinya sendiri adalah orang yang sangat murung, dan pribadi-pribadi murunglah yang saya temui sepanjang jalan. Wajah mereka penuh senyuman memang, senyuman palsu. Gairah yang terasa dalam setiap langkah mereka tampaknya juga gairah palsu. Orang-orang ini bukan seniman seperti yang saya temui di setiap sudut kota dulu, tapi mereka ini robot!
Tapi sukurlah masih terdapat beberapa keindahan yang tersisa, walau terasa sedikit palsu namun setidaknya ada sedikit keindahan yang bisa saya nikmati. Taman kota yang baru saja dipugar untuk kepentingan estetika kota, bukan untuk kepentingan kehidupan warganya, sudah dapat dimasuki masyarakat umum. Saya lalu duduk dan mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, ketika satu pohon yang tampak tua karena waktu membisikan sesuatu ke telinga saya.
“Kamu manusia dari masa lalu?,” ujarnya “kenapa baru saya lihat kamu sekarang?” dia bertanya lagi tanpa sempat saya menjawab. Saya lantas sadar dan hanya duduk mendengarkan karena takut dianggap kurang waras kalau berbicara dengan pepohonan.
“Kami juga dari masa lalu,” pohon itu bercerita “saya yakin kamu dari masa lalu. Warna wajahmu berbeda dari mereka yang biasa datang ke sini, tapi mirip dengan yang dulu saya kenal dan merawat saya penuh cinta dan harapan. Dulu kami masih muda, mungkin baru saja kamu tanam saat kamu berada di sini saat itu.” pohon itu terus berceloteh tanpa memberikan saya kesempatan untuk berpikir.
“Kami diperlakukan tidak seharusnya, bahkan sebagian dari kami dimusnahkan karena mengganggu estetika kota. Kami lantas ditiru dan dibuatkan penggantinya, dari bahan plastik seperti yang bisa kamu lihat di setiap sudut kota ini. Kamu pasti heran kenapa kota ini bisa berubah sedemikian jauhnya,..” pohon itu berhenti bercerita, dia seperti menyadari bahwa apa yang akan diceritakannya bukan sesuatu yang dapat diceritakan kepada siapa saja.
“..itu karena mahluk-mahluk hijau yang datang lantas menguasai kota ini. Mereka tidak lagi mencintai seni seperti nenek moyang kamu, mereka menggantikan seni dengan sesuatu yang lain. Yang mereka sebut-sebut dengan sesuatu yang lebih berkuasa dan lebih memuaskan daripada seni. Sesuatu yang membuat semua orang selalu kekurangan, tidak pernah puas dan hanya melihat hasil akhir tanpa tahu apakah mereka akan bertemu dengan hasil akhir itu atau tidak. Mahluk hijau itu menggantikan seni dengan uang.” situasinya semakin terasa tidak nyaman dan pohon itu menyadarinya sejak tadi, dia berhenti berbicara seakan tidak akan lagi bercerita. Tapi saya masih ingin mendengar cerita tentang kota yang saya cintai ini lebih jauh. Saya lantas memberanikan diri untuk berkata-kata, walau hanya dengan bisikan kecil tanpa menarik perhatian orang lain.
“Saya memang dari masa lalu, dan saya benar-benar ingin tahu.” singkat saja, saya sungguh tidak ingin dianggap kurang waras.
“Tidak salah lagi, kamu memang dari masa lalu. Sebenarnya aku sering bertemu dengan orang-orang dengan warna muka seperti kamu, jauh sebelum taman ini dibuatkan pagar dan dipenuhi barang-barang yang tidak aku kenal. Mereka biasanya berkumpul dan saling bertukar cerita tentang masa lalu, mereka kadang-kadang juga membawa karya-karya mereka, musik, rupa, satra, dan banyak lagi bentuk baru yang indah hasil kreatifitas mereka, ke bawah rindangnya daun-daunku. Semuanya terasa sangat indah, mereka berbicara tentang banyak hal, dan besoknya datang dengan karya-karya yang mereka anggap berkaitan dengan hal-hal yang mereka bicarakan sebelumnya. Mereka penuh kreatifitas seperti yang telah kamu ketahui pada saat kamu mengenal kota ini di masa lalu. Tapi semua itu terasa cepat sekali pergi, terutama karena satu persatu dari mereka terpengaruh oleh mahluk-mahluk hijau itu. Mereka dihasut dan menganggap uang adalah segalanya. Mahluk hijau itu membuat bentuk baru dari uang, mereka menamakannya komersialisme, erat hubungannya dengan konsumerisme yang lebih dulu dihembuskan ke dalam kehidupan warga kota. Komersialisme inilah yang membuat orang-orang yang biasanya datang ke sini itu pergi satu persatu. Mereka menganggap bahwa seni harus berujung uang, karena uang lebih penting dari segalanya.”
“Orang-orang lantas tidak lagi peduli dengan seni dan lingkungannya. Ukurannya bukan lagi seni seperti dulu, tapi sudah uang. Uang adalah faktor utama yang membawa mereka ke dalam kehidupan tanpa rasa cukup, mereka selalu kekurangan. Oleh sebab itu juga mereka hanya melihat hasil akhir, mereka tidak lagi menghargai proses yang paling penting dalam penciptaan sebuah karya seni, karena dalam proses itu terkandung ide dan originalitas. Mereka lantas jadi orang-orang yang memuja komersialisme dan menjadi alat uang untuk semakin membuat warga kota menjadi sebuah kumpulan konsumen yang tidak kreatif. Mereka sekarang menjadi robot yang diperintah oleh uang.” pohon itu kembali berhenti bercerita. Dia tampak kelelahan, seakan telah bercerita selama ratusan tahun.
Selang beberapa waktu saya masih termenung, menyadari diri saya sudah berbicara dengan sebuah pohon, terlebih bahwa kota ini sekarang dalam keadaan yang tidak lagi menyenangkan. Meskipun berat tapi rasa penasaran masih tetap menggelayuti pikiran saya. Saya kemudian bertanya lagi kepada pohon itu, dan mendapati diam sebagai jawabannya. Beberapa kali saya bertanya saya harus melakukan apa agar kota ini kembali normal, atau mungkin agar tidak menjadi seperti ini, pohon itu hanya diam. Saya bahkan berteriak-teriak menanyakan hal yang sama dan pohon itu diam. Daun-daunnya saja yang melambai perlahan karena terpaan angin, seolah ingin mengantarkan saya dan meminta untuk menyampaikan segala sesuatu yang dia bicarakan tadi, saat saya kembali ke masa lalu.
Selamat Datang!
Yaya.. “selamat datang”, ini blog baru saya. Bukan karena ada tugas saja sebenarnya (walaupun itu memang tujuan utamanya) tapi sekedar mencari lahan baru untuk berbagi.
Berbagi apa?
Apa saja, pendapat, ide, pemikiran, karya, dan banyak hal lain. Saya harap beberapa postingan saya dapat berguna, atau setidaknya sedikit saja menghibur.

